Say Yes.

say yes

©pinterest

 

Apa susahnya mengatakan ‘iya’?
Susah, apalagi bagi wanita.

Kali ini saya ingin bercerita, tentang seorang teman yang sedang ragu untuk mengatakan ‘iya’ pada pasangannya. Kisah mereka ini bisa dibilang epic. Tujuh tahun bersama, bukan waktu yang singkat. Entah sudah berapa masa yang mereka lalui bersama. Saya kurang tahu pasti. Yang jelas, kini mereka sedang menunggu kata ‘iya’ dari sang wanita.

Setahu saya, mereka sudah bersama semenjak bangku kuliah. Teman yang kemudian menjadi pasangan. Begitu, cerita mereka pada awalnya. Setiap hari bertemu dan bersapa. Kini mereka harus LDR beda pulau. Jarak selalu mengganggu? Tidak hanya itu, sinyal redup redam di hutan Kalimantan sering menciptakan komunikasi yang tak lancar. Begitu, curhatnya pada saya tahun lalu.

Selayaknya pasangan LDR lainnya, mereka bertemu banyak hal-hal yang mengganggu. Yang membuat kagum adalah, mereka menghadapinya dengan sangat dewasa. Biar pun, saya pernah menemukannya menangis histeris di pagi hari. Tapi, tak ada perang status di social media, tidak ada kata putus yang begitu saja terucap, tidak ada drama Korea yang membabi buta. Bahkan, tidak ada batasan hingga posesif itu tercipta.

Mereka punya cara tersendiri untuk menghabiskan waktu bersama. Setelah tahun pertama atau kedua LDR, pasangannya pulang ke kota asal. Senang melihat mereka menghabiskan waktu bersama. Lalu, teman saya mendadak memakai kalung dengan simbol love berwarna biru. Cantik! Saya pun iri melihatnya. Harapannya beberapa tahun ke depan, akan ada cincin yang melingkar di jari manis-nya.

Hubungan kedua keluarga mereka juga sangat baik. Tidak jarang teman saya suka menghabiskan malam minggunya ke rumah calon ibu mertua. Hanya sekadar menanyakan kabar dan menghabiskan waktu bersama. Saya ingat hari itu, teman saya terlihat sangat cantik.

Sekilas mereka terlihat baik-baik saja. Foto profil social media juga banyak yang berdua. Tapi, tidak ada yang tahu arti mata sembab di suatu pagi. Atau, room chat yang kosong beberapa hari. Mereka mungkin mengalaminya. Entahlah saya juga tidak tahu bagaimana benarnya. Tapi mereka juga mengalami masa-masa berat.

Beberapa saat yang lalu, teman saya menghabiskan akhir pekannya ke kota pasangan. Pertemuan yang singkat, namun punya banyak arti yang memikat. Saya percaya jika setiap pertemuan memiliki misi. Entah ingin menunjukkan apa, hanya mereka yang tahu jawabannya.

Kembali lagi pada kata ‘iya’. Memang cuma satu kata, tapi saat pertanyaannya itu mengarah pada hidup bersama rasanya akan jauh lebih berbeda. Saya sendiri tidak pernah mengatakan ‘iya’. Saya hanya terjebak dalam pertemuan keluarga yang tiba-tiba, lalu ada cincin yang melingkar di sana.

Mungkin teman saya akan membaca postingan ini. Jadi saya ingin berbagi tentang adegan sore, yang semoga cukup kuat untuk membuatnya melangkah.

We both capable of everything. Anything is possible and manageable
As long as we are together. Nothing will be too hard. Let’s make the magic happen.
You and me.

Pasangan saya mengatakannya lewat room chat sore ini. Saat saya berkeluh kesah membabi buta. Memang ada banyak hal berat di luar sana. Tapi saat sudah mengatakan ‘iya’, segalanya akan dihadapi bersama.

Untuk teman yang sedang membaca, saya berharap kamu selalu bahagia.

Advertisements

[Menjelang Pernikahan] Mau Mendidik Anak Seperti Apa?

cute-child-girl-with-teddy-bear

©myfreewallpapershub.com

Menantikan hari pernikahan adalah hal yang sangat menyenangkan. Terkadang, saya dan pasangan tenggelam dalam imajinasi kehidupan setelahnya. Sarapan pertama apa yang akan dihidangkan, kata apa yang akan saya ucapkan di pagi hari saat dia bangun hingga kebiasaan pagi apa yang akan kami lakukan di akhir pekan.

Ada banyak rencana yang terlintas, rasanya sangat menyenangkan. Hingga pada suatu sore di Mall, kami melihat beberapa anak kecil sibuk memainkan gadget-nya. Mengambil foto selfie, lalu dengan serius memilih beberapa filter. Panggilan dari sang ibu pun diacuhkan.

“Sebentar Ma, adek masih upload foto,” ucapnya cuek.

Kami hanya terdiam. Ada banyak pertanyaan di kepala. Apa yang dilihatnya di social media, siapa yang diajaknya ngobrol, foto macam apa yang sedang dipostingnya, dan apa saja yang telah ia baca di Internet. Sebagai calon orang tua, kami mulai resah.

Keresahan selanjutnya datang saat saya sedang menemani keponakan bermain game. “Ini lho Tante, karakter game-nya bagus.” Tanpa ragu saya melihatnya dan terdiam beberapa saat. Karakter yang dimaksudnya adalah seorang perempuan, dengan pakaian dan bentuk tubuh seksi. Baiklah, ini adalah ‘dunia’ anak-anak yang tidak pernah saya sangka sebelumnya.

Hidup di era digital, memang memberikan banyak kemudahan. Begitu juga memberikan gadget pada anak, memudahkan orang tua untuk bisa keep in touch dengan mudah. Namun, di baliknya ada banyak risiko buruk yang mungkin bisa terjadi. Baiklah, saya semakin resah.

Saya dan pasangan membahas topik ini setiap makan bersama. Dia mulai browsing tentang artikel-artikel parenting. Begitu juga dengan saya yang mencari gadget aman untuk anak-anak. Kami lalu sibuk sendiri, sampai membiarkan kopi jadi dingin dan beach berry tak segar kembali.

“Anak-anak bisa pakai gadget, asal yang ada parental control-nya,” celetuknya, sambil tetap fokus pada layar smartphone.

“Memangnya ada? Tapi anak-anak nanti tetap butuh pendampingan ekstra. Nggak bisa dibiarin aja pegang gadget,” jawab saya menggebu.

Baiklah, rencana pernikahan masih berbulan-bulan depan. Tapi entah kenapa topik pembicaraan tentang anak ini menjadi begitu serius. Lebih serius dari pada pemilihan souvenir, baju pernikahan dan hidangan catering. Meskipun masih jauh, kami hanya ingin jadi orang tua terbaik yang pernah ada.

“Anak-anak nanti dibolehin main gadget, maksimal 1 jam lah per hari. Atau lebih baik waktu weekend aja?”

Deal, anak-anak juga dibolehkan main socmed. Asal udah ngerjain tugas dan harus keep follow sama kita.”

Satu kesepakatan terbuat sudah. Kami sepakat untuk memberikan alokasi waktu. Lebih penting lagi, kami sebagai orang tua harus mampu jadi role model yang baik. Kurangi juga main gadget saat di rumah. Banyakin quality time bersama keluarga. Membahas hal ini, rasanya saat ‘hidup bersama’ menjadi semakin dekat.

Mendampingi anak-anak saat ‘berjelajah’ dengan internet menjadi kesepakatan selanjutnya. Bisa dimulai dengan membiasakan untuk berjelajah informasi dan aplikasi yang bermanfaat untuk menambah pengetahuannya. Tentu saja konten tersebut juga memiliki manfaat, bersifat mendidik, merangsang daya pikir dan juga kreativitas-nya.

Tugas sebagai orang tua, rasanya tidak ada habisnya, ya? Tapi memang ini yang harus dijalani. Kami tidak ingin memiliki anak yang hanya lucu dan imut-imut saja. Tapi juga berakhlak baik dan tumbuh dengan baik, seperti mama dan papa-nya *kibas rambut.

Pencarian masih berlanjut, lalu mempertemukan kami dengan gadget yang menarik seluruh perhatian, Acer Liquid Z320. Inilah penampakannya..

selektif-memilih-perangkat-600x318

©acerid.com

Acer Liquid Z320 ini memiliki fitur Kids Center, yaitu pre-install application yang sudah ada dalam smartphone. Gunanya untuk membatasi aplikasi yang digunakan oleh anak. Fitur ini juga dilengkapi dengan parental control yang bisa memantau aktivitas internet anak. Fitur keamanan ini dapat mencegah anak dari mendownload konten dewasa atau membeli aplikasi baru tanpa seizin spAcer.

“Acer Liquid Z320 ini dukung banget kalau kita mau edukasi anak-anak. Duh, lega kalau ada smartphone yang begini,” ucap pasangan saya sambil meneguk kopinya, yang sudah dingin.

2-batasi-konten-600x318

©acerid.com

Saya masih mencari-cari apa lagi yang dimiliki Acer Liquid Z320 ini. Ternyata Acer Liquid Z320 ini bisa digunakan sebagai sarana belajar yang seru dan mengasyikkan. Acer sudah sengaja mengisi fitur Kids Center ini dengan berbagai konten bermanfaat bagi anak-anak. Terhitung ada ribuan aplikasi edukasi untuk membantu anak belajar sekaligus mengasah kreativitasnya.

Jika anak butuh sarana hiburan, Kids Center juga menyediakan aplikasi gaming dan video yang bisa dinikmati si kecil saat pulang sekolah. Baiklah, kini saya dan pasangan bisa bernafas lega. Anak-anak bisa tetap memanfaatkan kemajuan teknologi dan mengambil sisi positif-nya. Bonusnya, kami lebih lega saat mereka berjelajah bersama Acer Liquid Z320.

“Acer Liquid Z320 punya Blue Light Shield juga, bagus nih!” kata pasangan saya penuh semangat.

Pasangan saya memiliki mata minus. Pekerjaannya dalam bidang IT juga mengharuskannya berhadapan dengan layar komputer, laptop dan smartphone sepanjang hari. Saya mengerti jika dia sangat concern dengan  kesehatan pengelihatan. Teknologi Blue Light Shield yang dimiliki Acer Liquid Z320 dapat mengontrol banyaknya cahaya biru yang muncul pada layar ponsel.

Menurunnya cahaya biru dapat mengurangi efek negatif dari paparan cahaya di layar. Hal ini tentu saja dapat membuat mata jadi lebih nyaman di depan layar. Ini menjadi poin penting yang juga disukai pasangan saya.

Spesifikasi yang dimiliki Acer Liquid Z320 ini juga cukup mumpuni. Dia punya sistem operasi Android lollipop, prosesor Quad Core 1,1 GHz, RAM 1 GB. Mau selfie bareng di kecil? Acer Liquid Z320 dilengkapi dengan dual kamera 5MP untuk primary dan 2MP untuk secondary. Dilengkapi juga dengan voice control, untuk membantu melakukan selfie dengan perintah suara.

acer-600x318

©acerid.com

Mau mendengarkan lagu anak-anak? Acer Liquid Z320  punya kualitas speaker terbaik dengan dukungan audio DTS sound. Dengan begitu, saya dan juga anak-anak bisa mendapatkan pengalaman audio yang berbeda. Cukup memuaskan, bukan?

Diskusi kami akhiri dengan menghembuskan nafas panjang, tanda lega. Pernikahan kami memang sedang menunggu hari. Tapi tidak ada salahnya kami mempersiapkan segalanya mulai dari kini. Orang tua bagaikan pena, yang memiliki kuasa menuliskan apa saja pada selembar kertas putih bernama, anak-anak.

Segalanya memanglah pilihan. Kami memilih untuk menjadi orang tua yang selalu update dengan perkembangan zaman. Tidak hanya kasih sayang dan juga sarana yang diberikan, namun juga perhatian yang sesuai dengan zaman di mana mereka tinggal. Kami memilih Acer Liquid Z320 sebagai pendampingnya kelak. Yang bisa menemaninya berjelajah internet tanpa perlu resah.

Komunikasi bersamanya tetap lancar, tanpa perlu takut ia akan menemukan konten yang belum sesuai dengan umurnya. Kecemasan kami sepertinya juga dirasakan sebagian orang tua di luar sana. Jadi, dengan Acer Liquid Z320, anak senang, orang tua tenang!

Doakan kami mampu menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak, kelak.

Mr.Chars & Ms.Ay

banner

Semesta Suka Bercanda

IMG-20151114-WA0002

Semesta terkadang suka bercanda. Candaannya pun tak biasa. Terkadang bisa membuat hilang segalanya atau mungkin bahagia dalam sekejap saja. Saya ingin bercerita tentang dua orang yang sedang diajak bercanda oleh semesta.

Candaan itu berawal dari segelas susu cokelat hangat di meja kerja. Tentu saja segelas susu itu tak datang sendiri, ada yang mengantarnya. Dengan senyum kaku, langkah ragu dan tatapan mata yang malu. Laki-laki itu mendekat, meletakkan segelas susu cokelat, tersenyum sebentar, lalu berlalu pergi. Wanita itu bahkan tak berani menatap. Hanya sesekali mencuri, dari ekor mata dengan mantap. Adegan itu berulang beberapa kali, di beberapa pagi.

IMG20150909090100

Segelas susu cokelat kedua.

Bukan segelas susu cokelat biasa, ada catatan kecil yang terselip di punggung. Dua tiga empat kata. Sederhana, tapi cukup membuat tawa. Mereka sedang berusaha mengenal. Atau bisa dibilang si laki-laki berusaha menunjukkan perhatian. Meyakinkan diri sendirinya juga. Jika mereka akan bersama, nantinya.

Adegan segelas susu cokelat kini mulai beralih, dengan chat room yang panjang, telepon yang malu dan juga tatapan mata ragu saat bertemu. Keduanya baru saja melewati masa yang berat. Tapi ada keinginan untuk mencoba lagi. Namun hanya sekali. Mereka bergantung pada segelas susu cokelat setiap pagi.

Pertemuan selanjutnya ada pada keramaian konser musik yang tidak mereka mengerti, cafe cantik dengan sandwich, ruang bioskop dengan cerita kelelawar dan cafe lantai dua dengan pizza cheesy cheese. Mereka lalui dengan pertemuan kaku yang menggebu. Dengan cerita masa kecil, pekerjaan, hobi hingga makanan yang tidak disukai.

IMG20150915183445

Wanita itu hanya berani melihat arah punggungnya saja.

Ada banyak keraguan yang mengganggu. Hingga akhirnya muncul pertanyaan ‘Apakah kita sedang membuang waktu?’. Wanita itu terlihat takut. Pucat untuk memulai. Namun, terlalu pengecut untuk mundur. Hingga pada suatu malam, saat berkumpul bersama teman ternyata tidak begitu menyenangkan. Laki-laki itu datang menjemput. Mengantarkan pulang, membawanya dalam ketenangan.

Adegan sederhana itu membawa mereka, pada satu hari yang menentukan. Semesta mulai bercanda, dengan restu yang tiba-tiba di hari ulang tahun mama si wanita. Mereka bersama tanpa ada kata meminta dan mengatakan ‘iya’.

Sebulan kemudian, ada kunjungan yang tiba-tiba. Cincin yang begitu saja dibawa. Mereka bertunangan. Segalanya terlihat begitu sempurna? Siapapun akan mengira hal yang sama. Tanpa ada yang tahu, beberapa bulan hingga tahun yang lalu. Ada kehilangan yang mendalam, ada marah yang membuncah dan kecewa yang tak terkira. Bukan waktu yang sebentar. Inilah kadonya. Pertemuan tiba-tiba yang penuh bahagia.

Beginilah semesta saat bercanda. Yang perlu dilakukan hanya percaya. Ada kekuatan Yang Maha Segalanya. Kini mereka sedang menghitung hari. Bertengkar hingga tengah malam. Berpelukan tanpa jeda. Dan masih jatuh cinta pada secangkir susu cokelat, setiap pagi.

TUJUH. Let me show you to the world.

A post shared by ayu miranty (@ayumiranty) on

Wanita itu saya. Laki-laki itu dia. Terima kasih semesta, sudah mengajak kami bercanda.